Gaduh Hanya Karena Perkataan
Pernahkah pembaca berantem dengan teman, saudara, atau sahabat karena sebuah ucapan atau perkataan? Contohnya, berkata kasar, menghina, atau ada diksi-diksi tertentu yang membuat tersinggung. Bagaimana jika ini juga terjadi dalam komunikasi seorang pemimpin, apalagi pemimpin yang memimpin sebuah negara?
Mungkin kita tidak asing dengan kata “ndasmu”, “bajingan”, dan “brengsek”. Kata-kata ini dapat digolongkan sebagai kata yang buruk dan tidak layak diucapkan. Namun, yang terjadi adalah kata-kata tersebut keluar dari seorang pemimpin yang memimpin kelompok tertentu. Tentu, hal ini akan menimbulkan pro dan kontra. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk ketegasan, tetapi ada juga yang menganggapnya dapat menimbulkan kegaduhan.
Terkesan sepele dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika berbicara, kita tinggal berbicara tanpa perlu memikirkan apa dampaknya. Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini disebut dengan efek komunikasi.
Menurut Profesor Dedy Mulyana dalam bukunya Ilmu Komunikasi, yang mengutip pernyataan Lasswell, ia menjelaskan bahwa efek komunikasi secara sederhana adalah sebuah dampak atau akibat dari pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Pada intinya, setiap kata, kalimat, dan diksi tertentu dapat menimbulkan sebuah efek, sebab pesan akan dipersepsi oleh komunikan.
Maka, seharusnya setiap perkataan dan ucapan kita pikirkan terlebih dahulu dampak yang akan terjadi. Seorang pemimpin adalah nakhoda terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang ayah, misalnya, memimpin sebuah keluarga yang skalanya kecil. Maka, ia seharusnya dapat menjadi contoh yang baik bagi istri dan anak-anaknya, baik dalam perilaku maupun ucapan.
Apalagi seseorang yang memimpin sebuah negara yang skalanya begitu luas. Seharusnya, bukan hanya kebijakan yang dibuat yang diperhatikan, tetapi juga ucapan. Dengan demikian, ia dapat menjadi teladan yang baik bagi masyarakat.
Perkataan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu dapat mengindikasikan lemahnya proses berpikir seseorang karena cenderung berucap berdasarkan kebiasaan daripada pertimbangan. Lalu, apa yang terjadi jika pemimpin kita tidak berada pada level tersebut?
Social Media