Perjalanan dari rumah saya ke
pasar hanya membutuhkan waktu sekitar 2 menit saja sebab tidaklah jauh. Seperti
layaknya seorang sopir yang mengantar majikannya belanja, ketika ibu saya
menginstruksikan untuk berhenti lalu saya menepi dan berhenti.
Sepulangnya dari pasar ibu saya
berkata
“ belonjo nak pasar saiki duek
seketewu gaonk opo opone, gak keroso moro moro sak munu ae. Podo mundak kabeh,
lombok tuku rongewu gak oleh saiki, dikonkon limangewu”
Lalu saya menimpali perkataan ibu
saya tadi dengan berkata
”salahe sampean wingi meleh
prabowo”
dengan nada sedikit emosi ibu
saya membalas ucapan saya “ yo mosok ero lek koyok ngene”
lalu saya meresponya dengan hanya
tertawa.
Tetapi ketika saya mencoba berpikir
dan melihat realitasnya di masyarakat, masih banyak sekali kafe kafe yang ramai,
bahkan masih banyak yang sering chekout barang barang di toko online. Apakah
mereka boros tidak ada pertimbangan, atau memang memiliki banyak uang. Bukankah
seharusnya kita menggunakan uang untuk sesuatu yang memang kebutuhan dasar,
apalagi dengan kondisi sekarang. Di satu sisi masyarakat mengeluh tentang
kenaikan harga kebutuhan pokok, namun disisi lain mereka tidak segan spending
uangnya untuk hal hal kecil yang tidak terlalu dibutuhkan.
Inilah yang disebut dengan “Lipstick
Effect” yaitu dimana dengan kondisi ekonomi yang sedang tidak baik, tapi
kita masih suka membeli hal hal kecil hanya untuk pemenuhan emiosional semata. Contoh
lebih memilih tidak membeli mobil, rumah, smartphone, bahkan berhemat untuk
kebutuhan pokok, tapi cekout setiap harinya, kopi di kafe atau kopi keliling
hanya untuk pemenuhan emosional sepintas.
Munculnya Istilah Lipstick
Effect
Lipstik Effect pertama
kali dikenalkan oleh Leonard Lauder, seorang CEO dari perusahaan Estee Lauder
yang menjual kosmetik. Ia melihat peningkatan penjualan lipstick meskipun saat
itu terjadi penurunan aktivitas ekonomi atau disebut dengan masa resesi.
Artinya banyak orang orang yang sadar dengan kondisi ekonomi yang tidak baik
namun tetap membeli hal hal kecil yang secara harga juga tidak murah bahkan
dengan insteitas tinggi atau sering hanya untuk pemenuhan penghiburan emosional
saja.
Apa dampak fenomena Lipstick
Effect ?
Jika kita hanya melihat dari sisi
istilah atau definisi dan realitas fenomenanya seakan tidak terlihat
permasalahannya. Jika ditinjau dari llmu ekonomi jelas telah terjadi
keseimbangan di tengah lesunya kondisi ekonomi namun perputaran ekonomi masih
terjadi. Bahkan disisi lain akan menguntungkan pelaku usaha di sektor tertentu
yang terkena dampak dari efek ini.
Tapi bagi individu subjek dari
fenomena ini belum tentu membawa dampak maslahat. Sebab secara psikologi
perilaku ini didorong oleh perasaan atau emosional semata. Jika dipenuhi pasti
akan timbul perasaan puas, senang, dan bahagia. Secara alamiah manusia pasti
menginginkan sesuatu yang membahagiakan maka berpotensi individu tersebut akan
mengulang perilakunya.
Dampak buruk bagi individu
1. Lebih mementingkan untuk membeli produk yang premium, menarik, dengan ukuran kecil yang harganya relaitve tapi dengan intensitas yang tinggi.
2. Memprioritaskan kebutuhan emosional daripada kebutuhan rasional. Artinya lebih mementingkan membeli barang - barang hanya untuk kepuasan perasaan semata, dan menggeser kebutuhan pokok yang seharusnya kita penuhi.
3. Membentuk lifestyle atau gaya hidup yang konsumtif, akhirnya orang orang akan cenderung membeli barang kecil demi kepuasan emosional saja.
Mendudukan kebutuhan emosional
dan kebutuhan rasional
Sehingga perlu untuk mendudukkan
antara kebutuhan emosional dan kebutuhan rasional. Keduanya memang perlu untuk
dipenuhi namun jika secara berlebihan justru malah berdampak kemudhorotan.
Kebutuhan emosional atau perasaan juga fitrah alami manusia artinya ini tidak
bisa dihilangkan tapi bisa dikendalikan. Kebeutuhan emosional yang senantiasa
dipenuhi justru akan mengabaikan bahkan menggeser kebutuhan primer yang
harusnya kita penuhi. Misal seseorang akan cenderung membeli barang barang yang
memuaskan dirinya dan tidak benar benar dibutuhkan.
Perlunya kerja pikiran yaitu
dengan memikirkan apakah benar kita membutuhkan barang barang tersebut? Jika
saya membeli atau tidak membelinya apa dampak bagi diri saya? Bagaimana kondisi
keuangan saya sekarang?. Maka dengan berpikir secara rasional kita bisa
mengalokasikan sesuatu yang memang kita butuh kan untuk jangka panjang daripada
kepuasan semata.
Oleh karena itu di tengah kondisi
ekonomi sekarang kita harus benar - benar waspada dengan hasrat atau emosional
semata. Jika kita tidak mengaktifkan kerja pikiran kita, boleh jadi kita tidak
sadar bahwa perilaku kita akan membawa pada jurang kehancuran finansial dalam
diri kita.
Social Media