BLANTERORIONv101

Mendudukan Fenomena Lipstick Effect

18 Juni 2026


                 

Beberapa hari yang lalu saya dimintai tolong oleh ibu saya untuk mengantarnya ke pasar di pagi hari. Biasanya memang bukan saya, tapi sama bapak saya. Namun kebetulan hari itu saya sedang libur ditambah sedang menganggur , akhirnya  sayalah dimintai tolong dan bersedia untuk mengantar.

Perjalanan dari rumah saya ke pasar hanya membutuhkan waktu sekitar 2 menit saja sebab tidaklah jauh. Seperti layaknya seorang sopir yang mengantar majikannya belanja, ketika ibu saya menginstruksikan untuk berhenti lalu saya menepi dan berhenti.

Sepulangnya dari pasar ibu saya berkata

“ belonjo nak pasar saiki duek seketewu gaonk opo opone, gak keroso moro moro sak munu ae. Podo mundak kabeh, lombok tuku rongewu gak oleh saiki, dikonkon limangewu”

Lalu saya menimpali perkataan ibu saya tadi dengan berkata

”salahe sampean wingi meleh prabowo”

dengan nada sedikit emosi ibu saya membalas ucapan saya “ yo mosok ero lek koyok ngene”

lalu saya meresponya dengan hanya tertawa.

Tetapi ketika saya mencoba berpikir dan melihat realitasnya di masyarakat, masih banyak sekali kafe kafe yang ramai, bahkan masih banyak yang sering chekout barang barang di toko online. Apakah mereka boros tidak ada pertimbangan, atau memang memiliki banyak uang. Bukankah seharusnya kita menggunakan uang untuk sesuatu yang memang kebutuhan dasar, apalagi dengan kondisi sekarang. Di satu sisi masyarakat mengeluh tentang kenaikan harga kebutuhan pokok, namun disisi lain mereka tidak segan spending uangnya untuk hal hal kecil yang tidak terlalu dibutuhkan.

Inilah yang disebut dengan “Lipstick Effect” yaitu dimana dengan kondisi ekonomi yang sedang tidak baik, tapi kita masih suka membeli hal hal kecil hanya untuk pemenuhan emiosional semata. Contoh lebih memilih tidak membeli mobil, rumah, smartphone, bahkan berhemat untuk kebutuhan pokok, tapi cekout setiap harinya, kopi di kafe atau kopi keliling hanya untuk pemenuhan emosional sepintas.

Munculnya Istilah Lipstick Effect

Lipstik Effect pertama kali dikenalkan oleh Leonard Lauder, seorang CEO dari perusahaan Estee Lauder yang menjual kosmetik. Ia melihat peningkatan penjualan lipstick meskipun saat itu terjadi penurunan aktivitas ekonomi atau disebut dengan masa resesi. Artinya banyak orang orang yang sadar dengan kondisi ekonomi yang tidak baik namun tetap membeli hal hal kecil yang secara harga juga tidak murah bahkan dengan insteitas tinggi atau sering hanya untuk pemenuhan penghiburan emosional saja.

Apa dampak fenomena Lipstick Effect ?

Jika kita hanya melihat dari sisi istilah atau definisi dan realitas fenomenanya seakan tidak terlihat permasalahannya. Jika ditinjau dari llmu ekonomi jelas telah terjadi keseimbangan di tengah lesunya kondisi ekonomi namun perputaran ekonomi masih terjadi. Bahkan disisi lain akan menguntungkan pelaku usaha di sektor tertentu yang terkena dampak dari efek ini.

Tapi bagi individu subjek dari fenomena ini belum tentu membawa dampak maslahat. Sebab secara psikologi perilaku ini didorong oleh perasaan atau emosional semata. Jika dipenuhi pasti akan timbul perasaan puas, senang, dan bahagia. Secara alamiah manusia pasti menginginkan sesuatu yang membahagiakan maka berpotensi individu tersebut akan mengulang perilakunya.

Dampak buruk bagi individu

1. Lebih mementingkan untuk membeli produk yang premium, menarik, dengan ukuran kecil yang harganya relaitve tapi dengan intensitas yang tinggi.

2. Memprioritaskan kebutuhan emosional daripada kebutuhan rasional. Artinya lebih mementingkan membeli barang - barang hanya untuk kepuasan perasaan semata, dan menggeser kebutuhan pokok yang seharusnya kita penuhi.

3. Membentuk lifestyle atau gaya hidup yang konsumtif, akhirnya orang orang akan cenderung membeli barang kecil demi kepuasan emosional saja.

Mendudukan kebutuhan emosional dan kebutuhan rasional

Sehingga perlu untuk mendudukkan antara kebutuhan emosional dan kebutuhan rasional. Keduanya memang perlu untuk dipenuhi namun jika secara berlebihan justru malah berdampak kemudhorotan. Kebutuhan emosional atau perasaan juga fitrah alami manusia artinya ini tidak bisa dihilangkan tapi bisa dikendalikan. Kebeutuhan emosional yang senantiasa dipenuhi justru akan mengabaikan bahkan menggeser kebutuhan primer yang harusnya kita penuhi. Misal seseorang akan cenderung membeli barang barang yang memuaskan dirinya dan tidak benar benar dibutuhkan.

Perlunya kerja pikiran yaitu dengan memikirkan apakah benar kita membutuhkan barang barang tersebut? Jika saya membeli atau tidak membelinya apa dampak bagi diri saya? Bagaimana kondisi keuangan saya sekarang?. Maka dengan berpikir secara rasional kita bisa mengalokasikan sesuatu yang memang kita butuh kan untuk jangka panjang daripada kepuasan semata.

Oleh karena itu di tengah kondisi ekonomi sekarang kita harus benar - benar waspada dengan hasrat atau emosional semata. Jika kita tidak mengaktifkan kerja pikiran kita, boleh jadi kita tidak sadar bahwa perilaku kita akan membawa pada jurang kehancuran finansial dalam diri kita.

 

 

 

Komentar