BLANTERORIONv101

Tren "Spill" Aib : Ketika Privasi Tak Lagi Berharga Di Mata Sendiri

19 April 2026


Pernahkah melihat curhatan masalah seseorang di media sosial? Entah itu tentang masalah keluarganya, pertemanan, percintaan dan lain sebagainya. Bahkan mungkin masalah-masalah yang seharusnya disimpan rapat-rapat malah diumbar ke publik.

Anehnya fenomena semacam ini malah mendapat banyak dukungan dari para netizen.  Walaupun si netizen tersebut tidak mengenal orang yang dibicarakan mereka bisa ikut membenci objek yang ada pada curhatan tersebut.

Pada beberapa kejadian bahkan seseorang bisa terkenal ataupun viral lewat permasalahan yang dia umbar di media sosialnya. Sehingga mirisnya sekarang banyak orang yang berlomba-lomba untuk membongkar seluruh aibnya demi untuk “terkenal”.

Bahkan beberapa waktu lalu permasalahan ini diangkat menjadi sebuah konten di akun @kelvinstevianos bersama Ustad @felix.siauw. Instagram.

Lantas apakah ini menjadi suatu hal yang salah jika kita menyampaikan aib kita di media sosial?

Menurut ajaran Islam dalam QS. An-Nisa ayat 148:

“Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terang-terangan (jahar) kecuali orang yang dizalimi...”

Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

"Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan dosa). Mahir (terang-terangan) itu adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya ia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi aibnya..." (HR. Bukhari & Muslim).

Di sini kita bisa melihat bahwa dalam ajaran Islam kita dilarang untuk mengumbar aib sendiri. Perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak disukai Allah.

Mengapa kita tidak diperkenankan untuk mengumbar aib sendiri?

1. Menghargai kehendak Allah yang menutup aib kita. 

Jika Allah saja sudah menutupi kesalahan kita dari pandangan manusia sedangkan kita yang membukanya sendiri, bukankah ini bentuk tidak bersyukurnya kita atas perlindungan-Nya.

2. Menjaga kehormatan diri.

Dalam ajaran Islam sangat menjaga kehormatan diri seorang muslim. Dengan kita menutup aib sendiri dan tidak menyebarkannya merupakan bagian kita untuk menjaga martabat di hadapan masyarakat.

3. Menjauhkan dari kegaduhan.

Aib yang kita sampaikan tidak jarang membuat orang-orang terpecah menjadi beberapa kubu untuk membela orang yang dianggap benar. Padahal mereka sendiri juga tidak terlibat dalam masalah tersebut tetapi ikut berselisih satu sama lainnya. Dengan menjaga aib, kita tidak membuat kegaduhan di masyarakat.

4. Mencegah normalisasi dosa.

Dengan menceritakan aib buruk seperti kemaksiatan diri dapat membuat orang lain merasa bahwa dosa tersebut adalah hal yang umum dilakukan di masyarakat.

“Allah sedang menjagamu melalui heningnya rahasia. Dia menutup aibmu agar dunia hanya melihat kebaikanmu, memberimu ruang untuk pulang dan memperbaiki diri tanpa harus merasa malu."

 

 

Komentar