Pernahkah melihat curhatan masalah seseorang di media sosial? Entah itu tentang masalah keluarganya, pertemanan, percintaan dan lain sebagainya. Bahkan mungkin masalah-masalah yang seharusnya disimpan rapat-rapat malah diumbar ke publik.
Anehnya fenomena semacam ini
malah mendapat banyak dukungan dari para netizen. Walaupun si
netizen tersebut tidak mengenal orang yang dibicarakan mereka bisa ikut
membenci objek yang ada pada curhatan tersebut.
Pada beberapa kejadian bahkan
seseorang bisa terkenal ataupun viral lewat permasalahan yang dia umbar di
media sosialnya. Sehingga mirisnya sekarang banyak orang yang berlomba-lomba
untuk membongkar seluruh aibnya demi untuk “terkenal”.
Bahkan beberapa waktu lalu
permasalahan ini diangkat menjadi sebuah konten di akun @kelvinstevianos
bersama Ustad @felix.siauw. Instagram.
Lantas apakah ini menjadi suatu
hal yang salah jika kita menyampaikan aib kita di media sosial?
Menurut ajaran Islam dalam QS.
An-Nisa ayat 148:
“Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terang-terangan (jahar) kecuali orang yang dizalimi...”
Rasulullah SAW juga pernah
bersabda:
"Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan dosa). Mahir (terang-terangan) itu adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya ia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi aibnya..." (HR. Bukhari & Muslim).
Di sini kita bisa melihat bahwa
dalam ajaran Islam kita dilarang untuk mengumbar aib sendiri. Perbuatan
tersebut adalah perbuatan yang tidak disukai Allah.
Mengapa kita tidak diperkenankan
untuk mengumbar aib sendiri?
1. Menghargai kehendak Allah yang menutup aib kita.
Jika Allah saja sudah menutupi kesalahan kita dari pandangan manusia sedangkan kita yang membukanya sendiri, bukankah ini bentuk tidak bersyukurnya kita atas perlindungan-Nya.
2. Menjaga
kehormatan diri.
Dalam ajaran Islam sangat menjaga kehormatan diri seorang muslim. Dengan kita menutup aib sendiri dan tidak menyebarkannya merupakan bagian kita untuk menjaga martabat di hadapan masyarakat.
3. Menjauhkan
dari kegaduhan.
Aib yang kita sampaikan tidak jarang membuat orang-orang terpecah menjadi beberapa kubu untuk membela orang yang dianggap benar. Padahal mereka sendiri juga tidak terlibat dalam masalah tersebut tetapi ikut berselisih satu sama lainnya. Dengan menjaga aib, kita tidak membuat kegaduhan di masyarakat.
4. Mencegah
normalisasi dosa.
Dengan menceritakan aib buruk
seperti kemaksiatan diri dapat membuat orang lain merasa bahwa dosa tersebut
adalah hal yang umum dilakukan di masyarakat.
“Allah sedang menjagamu melalui heningnya rahasia. Dia menutup aibmu agar dunia hanya melihat kebaikanmu, memberimu ruang untuk pulang dan memperbaiki diri tanpa harus merasa malu."
Social Media